Selagi Aku Ingat, Tuhan…
”…dan lelaki adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…” (HR Bukhari-Muslim)
Selagi aku ingat, Tuhan, mohon perdalam rasa takut dalam dadaku oleh karena ujar RasulMu tadi.
Kuanggap Engkau Aku.
Kuanggap engkau aku,
maka kumaki dirimu sebagaimana
aku pada diriku sendiri.
Selanjutnya akan belajar aku
mencintaimu lebih dari
aku pada diriku sendiri,
namun ketahuilah bahwa
sejujurnya tutur dan langkahku adalah
karena kuanggap engkau
aku.
Aku Bersaksi Aku.
Aku bersaksi bahwasanya aku
bukan seorang muslim yang benar, karena
Ramadhan datang bertamu dan aku tidak
menjamunya sebagaimana
sepatutnya ia dijamu:
dengan hormat dan cinta.
Aku bersaksi bahwasanya aku
telah gagal dan kehilangan Laliatul Qadar, malah
sejujur-jujurnya di hatiku sama sekali
tidak terasa nilai dan harganya sebesar apa,
sebanyak apa, semulia apa,
sementara aku dengan sombongnya berprasangka
bahwa solatku dan puasaku dan sedekahku
yang remeh dan tidak seberapa
akan sanggup memberiku lebih dari
apa yang bisa diberikan
malam seribu bulan.
Dan aku sungguh-sungguh bersaksi bahwa
“Untuk apa mudaku sebelum waktu tuaku?” Lalai.
“Untuk apa sehatku sebelum sakitku?” Lalai.
“Untuk apa kekayaanku sebelum masa kefakiranku?” Lalai.
“Untuk apa luangku sebelum datang kesibukanku?” Lalai.
“Untuk apa hidup sebelum waktu ajalku?” Lalai.
Dan aku bersaksi bahwa
saat ini juga aku
memohon
ampun.
Di Pekuburan Anganku.
Mari ucapkan bersama-sama denganku:
“Angan adalah sayap yang diharap-harapkan mereka yang menolak berjalan dengan kakinya sendiri.”
“Angan adalah sayap yang diharap-harapkan mereka yang menolak berjalan dengan kakinya sendiri.”
“Angan adalah sayap yang diharap-harapkan mereka yang menolak berjalan dengan kakinya sendiri.”
Di pekuburan anganku ini aku menamparmu.
Selamat jalan, doakan aku segera menemukan berlari ke mana jiwaku yang kerdil, bersembunyi di mana ketegasannya yang dipudarkan dunia.
Atau tentu, di sisiku jalan masih cukup untuk menampung jejak langkahmu. Yang mana pun, terus aku akan belajar mencintaimu atas nama Tuhan.
Teman Seperjalanan.
Bawa telapak tanganmu di hadapanmu.
Amati jari-jemarimu. Permukaannya yang gemetar dan berdetak oleh nadi dan arteri. Kepalkan genggamanmu sekuat-kuatnya. Lepaskan. Putar pergelangan tanganmu. Perintahkan apa saja padanya.
Maka tidakkah engkau melihat?
Telapak tangan dan jari-jemarimu akan melakukan apapun untukmu. Untuk keinginanmu. Meski menggeletar ia oleh dingin, oleh panas, oleh hujan, oleh lapar.
Juga telapak kakimu. Juga lenganmu. Juga debar jantung dan kelopak matamu.
Sesungguhnya engkau tak pernah sungguh-sungguh kesepian dan ditinggalkan.
Belajarlah Engkau untuk Tidak…
Belajarlah engkau untuk tidak, Impilara, belajarlah engkau untuk tidak.
Untuk tidak.
Engkau tahu pasti apa-apa yang dapat kau terakan di akhir kalimat itu.
Belajarlah engkau.
Tentang Mimpi
Mimpi adalah satu kondisi yang menurutmu lebih baik dari kondisi sekarang. Ada dua jenisnya: mimpi mengenai satu keadaan di dunia, mimpi mengenai keadaan di akhirat. Untuk jenis yang terakhir siapapun memiliki mimpi yang sama, harapan yang sama. Maka ia tak lagi menjadi sebuah mimpi, melainkan satu fitrah. Satu konstanta. Satu keniscayaan yang tidak perlu diperpanjang.
Maka untuk selanjutnya mimpi adalah harapan tentang keadaan-keadaan di dunia. Yang lebih indah dari sekarang. Lebih ideal dari sekarang.
Apa benar begitu?
Satu hal yang engkau perlu tahu tentang mimpi, Impilara, adalah bahwa engkau tak pernah sungguh-sungguh tahu apa yang baik untuk dirimu. Benarkah rumah sederhana dengan rumput halaman yang sesekali tak terurus itu baik untukmu? Sungguhkah gaji yang lebih tinggi dari sekarang, jenjang karir yang di atas sekarang, adalah pertanda pasti ia kebaikan yang menghampirimu? Atas dasar apa engkau memutuskan bahwa hal-hal yang menyenangkan—aku tak yakin engkau pernah memimpikan sesuatu yang menyedihkan untukmu sendiri—otomatis juga baik untukmu?
Sepandai apa engkau membaca efek segala sesuatu bagi dirimu sendiri?
Dan lebih celaka lagi bahwa kemudian impian itu yang menentukan tindakanmu. Langkahmu. Engkau membangun dan menyusun deret jalan panjang dari tempatmu berdiri sekarang menuju satu titik impian itu, di kejauhan. Lalu dengan patuh engkau menjalaninya, memodifikasi menyusun ulang hidupmu untuk dapat menerima kedatangan mimpi-mimpi itu nantinya.
Lalu engkau jatuh dan luka ketika segala macam hal yang datang menjauhkanmu dari impian itu. Engkau menolak bersyukur.
Lalu engkau dengan pongah mendadak merasa Tuhan berpihak kepadamu ketika impian itu seolah sedikit mendekat padamu. Engkau menganggap dirimu suci.
Impian-impian itu merantai jiwamu.
Semenjak engkau berfantasi tentangnya, saat engkau menyusun rencana, ketika dia pada akhirnya datang atau tidak datang padamu, rantai-rantai itu mengikat. Erat.
Maka kini aku bertanya padamu. Untuk apa engkau bermimpi?
Engkau dan aku sama-sama tahu bahwa kita sekedar belajar tentang impian dan angan-angan dari ceritera. Dari nyanyian. Dari gemerlap dunia, yang lalu kita perlahan teracuni olehnya. Dari para penjaja mimpi di televisi, yang dengan rutin mengingatkanmu bahwa kulitmu kurang putih, tubuhmu kurang tinggi, tulangmu kurang kuat, bayi-bayimu kurang cerdas, kendaraanmu kurang lesat.
Dari sana, bukan?
Mereka yang bertanggung jawab membentuk konsep di dalam kepala kita tentang apa itu impian. Percaya, engkau, pada mereka?
Tetapi tanpa mimpi hidupku tanpa arah, protesmu. Tanpa motivasi.
Yang tentu saja adalah ucapan yang luar biasa bodoh sementara kamu sudah bersyahadat. Sudah punya Islam di jiwamu. Bagaimana engkau bisa berujar tak punya arah sementara agamamu mengajarkanmu bagaimana harus bereaksi pada segala macam hal?
Padahal Tuhanmu itu telah dengan baiknya mengizinkanmu untuk gagal. Untuk berpikir dan sampai pada kesimpulan yang salah, selama engkau telah sungguh berusaha dan bersedia mengakui yang lebih benar darimu.
Padahal impian-impian itu erat mencekikmu dalam rantai-rantai obsesinya sebelum engkau merengkuhnya. Padahal ia merajam habis jiwamu dan meruntuhkan segala yang kau kenal tentang dirimu sendiri kala engkau gagal mendapatinya.
Masih inginkah kau bermimpi?
Lihat.
Lihatlah, Impilara. Lihat. Pada dirimu sendiri, pada jejak langkahmu dulu dan kini. Berhenti sejenak dari hidupmu dan lihatlah.
Ya.
Jejak-jejakmu berputar, menyimpang, tak tentu arah. Lalu kembali lagi tepat di sini. Sekali lagi di sini. Seperti engkau dulu berawal. Sebagaimana engkau dulu memulai.
Bertahun berlalu, Impilara. Hati dan peristiwa. Tetapi engkau yang kini pada akhirnya adalah produk dari stagnansi. Terhambur hilang waktumu, Impilara. Hilang. Meski dengan entengnya engkau menganggap dirimu meningkat, bertambah, belajar. Dusta.
Ya, baru kali ini kulihat engkau merasa malu. Rasa malu yang jika dua tiga tahun lalu menghampiri hatimu yang pongah dan menolak merasa bersalah itu tentu terselamatkan engkau dari dirimu sendiri hari ini.
Engkau hari ini, Impilara, adalah kegagalan.
Maka kau bunuh mimpimu. Selamat.
Mari kita berbincang sekali lagi.
Pencerahan I
Hari ini aku mengerti bahwa
sedemikian mudahnya PengampunanMu itu
adalah caraMu untuk menunjukkan
seberapa besar KekuasaanMu,
bahwa Engkau sedemikian Perkasa
hingga tak ada ruginya bagiMu sama sekali
melupakan dan mengabaikan
semua dosa-dosa kami yang
mengenaliMu
dan menganggapMu tak sampai berkenan
mengampuniku adalah sama aku
merasa cukup perkasa seakan-akan
dapat mempengaruhi, menggoyahkan
KemurahhatianMu,
jadi
aku tak berani.
Pesan.
Ini yang ingin kukatakan padaku sendiri:
“Bajingan terkutuk itu ada agar engkau
melihat ke dalam dirimu sendiri, menakar dalam
apakah sudah sebenar-benarnya lurus jalanmu
sebagai manusia sehingga tak ada dosa lagi
bagimu memanggil orang lain ‘bajingan’.
Sampah keparat itu dihadirkan padamu agar engkau
mengambil nafas dalam-dalam dan menyadari bahwa
denyut jantung yang mendadak kau sadari keberadaannya
itu tidak akan berdetak selamanya, bahwa jatah
hidupmu kian berkurang kian lama kau mendengarnya.
Setan busuk itu muncul dalam hidupmu agar engkau
diam. Diam. Diam. Diam. Diam dan diam. Juga
dalam amuk gelapmu yang lepas kendali. Juga
dalam kehancuran yang menurut pandanganmu pantas dihadirkan,
dalam nyala amarahmu yang tak bisa padam.”
Dan ini yang akan kujawab padaku sendiri:
“Aku mendengarmu.
Aku ingin tunduk dan berserah.”
Lalu aku akan berpesan padaku sendiri:
“Setelah sanggup kaukalahkan dirimu sendiri,
dilimpahkan oleh Tuhan ke dalam genggamanmu
semesta ini.”