Impilara


Begitu Banyak yang Menyudutkanmu..

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Maret 29, 2007

..bersyukurlah hingga saat ini, sepengetahuanku, engkau belum lagi menyudutkan siapapun. Membawa mereka pada situasi yang sama denganmu saat ini.

Bersyukurlah.

Batu karang tidak menjadi batu karang kecuali didera ombak lautan. Sepanjang waktu, sepanjang zaman.

Update:

Ya Allah, aku ingin menangis karena-Mu, lalu mati.

Comments Off

Terabaikan, Terpinggirkan

Ditulis dalam Impi oleh Impilara pada Maret 28, 2007

Bukankah tidak ada lagi tempat bersandar? Tidak mengapa, tidak mengapa. Dari satu tanggung jawab menuju tanggung jawab berikutnya. Terserah apa nanti yang akan datang. Terserah.

Comments Off

Aku Sungguh Melihatmu Berperang, Sayang..

Ditulis dalam Impi oleh Impilara pada Maret 27, 2007

..dan semua darah, peluh, airmata, adalah jalan menuju entahapa yang semoga disediakan untuk kita.

Takut datang dan pergi, Alhamdulillah. Arahkan semua takut itu padaNya.

Teguhkan.

Comments Off

Menjadi Panutan itu Anjing!

Ditulis dalam Impi oleh Impilara pada Maret 26, 2007

Ya.

Karena sebagai panutan engkau perlu berani; raja atau pencuri, saat menjadi bahaya untukmu dan untuk mereka yang dalam naunganmu, engkau harus melawannya dengan taring dan raungmu.

Ya.

Karena sebagai panutan engkau harus setia pada mereka yang kebetulan dijadikan Tuhan sebagai pengambil manfaat dari apa yang kau ucapkan, kau lakukan, kau pikirkan, kau bagikan.

Ya.

Karena sebagai pemimpin engkau tak membutuhkan nama, kedudukan, laptop, sopir pribadi. Engkau tidak ada, hanya refleksi cahaya Ilahi.

Maka.

Jadi anjinglah engkau, para panutan.

Comments Off

Terhadap Seorang Pendosa, Apakah Kiranya yang akan Kauucapkan?

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Maret 26, 2007

+ Engkau berdosa! Engkau pendosa!

- Benar.. tahukah kau aku tidak ingin hidup lebih lama lagi?

+ Sungguh?

- Entahlah. Namun aku lelah dengan diriku sendiri; dengan segala nafsunya.

Engkau dilarang mati.

- Sungguh?

Ya. Sampai Allah memanggilmu, engkau dilarang mati.

-  Untuk apa aku tetap ada jika yang kulakukan hanyalah menumpuk dosa?

Benar kau merasa begitu?

- Oh, baiklah, baiklah.. Aku ingin hidup. Tapi aku muak dengan tumpukan dosaku. Tahukah kau kini kuanggap diriku sendiri sampah?

Tidak. Tetapi itu tidak penting. Berhentilah memanjakan emosi remajamu. Kau dewasa sekarang.

- Oh, aku terlampau malu untuk memohon maaf padaNya. Lagi dan lagi.

Comments Off

Dalam Kebuntuan

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Maret 26, 2007

Duhai, apakah yang harus aku lakukan? Setiap apa yang kuhasilkan menjadi sampah, kian waktu kian meyakinkanku betapa kemampuanku sesungguhnya adalah ketidakmampuan. Aku melihat di hadapanku mediocrity, kebosanan, disharmoni.

Dan waktu! Betapa semua ini menyiksaku dengan engkau mengejar-ngejar tiap kali aku terjaga.

Dan penolakan! Betapa semua ini kutakuti hingga kubawa dalam lelapku.

Aku lelaki kecil penakut! Ya, ya! Aku lelaki kecil penakut. Sekalipun aku tidak menangis, sekalipun aku sanggup membiarkan lukaku sembuh sendiri.

Namun aku penakut. Pengecut.

Dan lingkaran setan inilah: kegagalan, ketakutan, kegagalan karena ketakutan, ketakutan akibat kegagalan. Apakah terkutuk semua di hidup ini? Apakah pilihan-pilihanku?

Akan selalu kuingat bahwa selagi aku terpuruk dan lara, dunia terus akan menghujam padaku, akan terus kuingat dendam ini. Aku tidak akan membalas buruk, sungguh, namun akan kuingat pedihnya untuk mengatur langkah dan nafasku lagi nanti.

Jarum jam berputar, berputar, bagaimana engkau tidak menjadi gila karenanya? Jika engkau masih mendapati kewarasanmu saat ini, duhai, betapa merdeka dirimu!

Aku tak ingin menjadi sepertimu, tetapi sungguh aku pun terluka dalam penjara ini.

Akan ada jalan.

Sesungguhnya sesudah kesulitan ada fajar kemudahan.

Dan bukankah ayat ini yang selalu menyelamatkanku berkali-kali? Aku percaya padaMu, Tuhanku, duhai betapa aku membutuhkanMu untuk menghukum waktu.

Kuikrarkan:

Aku berlindung pada Tuhan pemilik Senja,

dari kejahatan makhluk-makhluk yang (adalah) ciptaanNya.

Duhai, semoga Engkau berkenan mendengarkan. 

Comments Off

Tuhan Membuatku Kesepian Hari Ini

Ditulis dalam Impi oleh Impilara pada Maret 25, 2007

Sungguh. Dan bukan berarti ini menyiksaku.

Apa lagi yang bisa kukatakan? Aku ingin berbincang dengannya, namun dia harus pergi. Lalu datang dia yang lain lagi. Sesaat lalu, ia pun segera berlalu.

Dan ada lagi dia, tampaknya tengah lara di sana sepertiku. Bukan kandidat yang tepat untukku datang berkeluh-kesah.

Sungguh, selain pada-Nya, aku berharap tak pernah lagi berkeluh-kesah seumur hidupku. Seperti Ibrahim yang menolak Jibril. “Kalau kepadamu, sih, aku tidak butuh!” serunya, padahal api telah diluapkan kaumnya padanya.

Semoga rahmat dan keselamatan untukmu, Ibrahim.

Nah, kembali tentang aku lagi. Tanpa siapapun untuk berbincang, di sinilah kudapati diriku. Bercakap-cakap dengan jiwaku sendiri. Dalam setting yang nampaknya dipersiapkan Tuhan untukku. Dalam waktu yang seolah dibekukannya untukku.

Duhai, duniawi.

Mundurlah sejenak selagi aku menatapi seperti apa aku menjejak.

Aku membuat perjanjian dengan diriku sendiri. Setahun lagi, aku tak ingin lagi mendapati diriku dalam jejaring kesibukan semacam ini lagi. Aku akan lebih memahami apa itu manajemen hati. Manajemen waktu. Manajemen impi dan lara.

Di saat itu, aku tidak akan mengizinkan diriku lalai. Aku akan ada tidak untuk pengguna jasaku. Tidak untuk mereka yang kini kubesar-besarkan sebagai sumber penghidupanku. Aku akan ada untuk mereka yang berarti bagiku. Atau bahkan tidak; aku akan ada untuk Tuhanku.

Yang manapun itu, semoga hatiku dapat berdamai seusai perdebatan-perdebatan.

Tuhan membuatku kesepian hari ini dan, demi namaNya, aku bersyukur (meski hatiku lara). Tidak mengapa.

Sungguh, tidak mengapa.

Manusia adalah ulat, kepompong, kupu-kupu, ulat lagi, kepompong lagi, ad nauseum.

Tiap fase akan kudatangi, kujalani. Aku manusia, (dan karenanya) fana. Inilah setitik atom pembuktianku bahwa tiap penciptaanNya takkan sia-sia.

Comments Off

Impilara

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Maret 25, 2007

Inilah hidup, kawan. Engkau sendirian, demikian pula langit dan bintang-bintang. Bahkan tiap jiwa adalah bintang, bertahun cahaya dari lainnya. Tidakkah kau mengerti?

Lelah ini akan merasuk ke dalam tubuhmu, jiwa-raga-hati, tulang-belulangmu, membuatnya terjaga. Atau membunuhnya. Namun aku yakin engkau masih akan terjaga. Lihatlah, bahkan kau tak lagi menangis untuk semua ini.

Aku jatuh cinta dengan tangismu yang kemarin lalu, saat disebutkan padamu kisah dia yang pantas dirindukan. Alangkah jauhnya dia, betapa ingin mendengarkan saran dan harapnya untukmu.

Impilara. Inilah hidup, karibku.

Adakalanya gelap ini datang padamu, sahabat lama yang bertamu melepas rindu.

Ingatkah engkau dengan janji Tuhan? Lebih dekat dari nadimu, jiwaku! Engkau tak sendirian di jalan ini, pahit ini belum lagi yang mendatangkan do’a Nuh, do’a Luth.

Kemudahan akan datang, karena inilah fitrahnya sendiri. Dan beban ini akan melayang pergi. Dengarkanlah sumpahku akan ini, kuucapkan tanpa beban karena Tuhan sendiri menjanjikan, mengizinkan.

Maukah membaca lagi Al-Ashr bersamaku? Beriman. Beramal salih. Saling menopang: dalam kebenaran, dalam kesabaran. Betapa sedih dan duka ini tak ada tempat di sana. Dalam untai ayat yang (hanya!) tiga.

Baringkan jiwamu dan hembuskanlah pedih ini. Impilara. Bahkan Muhammad mulia pun mendapati tahun dukanya. Maka engkau. Maka aku.

Kita tetap di sini, kawanku. Dalam lara dan sendiri.

Alhamdulillah, kita kecil dan lemah.

Comments Off