Impilara
Inilah hidup, kawan. Engkau sendirian, demikian pula langit dan bintang-bintang. Bahkan tiap jiwa adalah bintang, bertahun cahaya dari lainnya. Tidakkah kau mengerti?
Lelah ini akan merasuk ke dalam tubuhmu, jiwa-raga-hati, tulang-belulangmu, membuatnya terjaga. Atau membunuhnya. Namun aku yakin engkau masih akan terjaga. Lihatlah, bahkan kau tak lagi menangis untuk semua ini.
Aku jatuh cinta dengan tangismu yang kemarin lalu, saat disebutkan padamu kisah dia yang pantas dirindukan. Alangkah jauhnya dia, betapa ingin mendengarkan saran dan harapnya untukmu.
Impilara. Inilah hidup, karibku.
Adakalanya gelap ini datang padamu, sahabat lama yang bertamu melepas rindu.
Ingatkah engkau dengan janji Tuhan? Lebih dekat dari nadimu, jiwaku! Engkau tak sendirian di jalan ini, pahit ini belum lagi yang mendatangkan do’a Nuh, do’a Luth.
Kemudahan akan datang, karena inilah fitrahnya sendiri. Dan beban ini akan melayang pergi. Dengarkanlah sumpahku akan ini, kuucapkan tanpa beban karena Tuhan sendiri menjanjikan, mengizinkan.
Maukah membaca lagi Al-Ashr bersamaku? Beriman. Beramal salih. Saling menopang: dalam kebenaran, dalam kesabaran. Betapa sedih dan duka ini tak ada tempat di sana. Dalam untai ayat yang (hanya!) tiga.
Baringkan jiwamu dan hembuskanlah pedih ini. Impilara. Bahkan Muhammad mulia pun mendapati tahun dukanya. Maka engkau. Maka aku.
Kita tetap di sini, kawanku. Dalam lara dan sendiri.
Alhamdulillah, kita kecil dan lemah.