Untuk Anakku
Kelak, akan ada saatnya di mana engkau akan harus memilih. Dan tiap pilihan adalah derita untukmu. Sekalipun, sekalipun, engkau tetap akan harus memilih, karena tanpa memilih maka semua derita dari tiap-tiap pilihan itu justru akan datang bersamaan padamu.
Kelak, akan ada saatnya di mana engkau akan berbuat kesalahan dan tak ada jalan keluar ataupun beralasan. Sesungguhnya penebusan dari kesalahan itu tidak akan mudah, engkau akan harus menelan semua pahitnya sementara seisi dunia seolah membencimu (maafkan aku jika paranoiaku menurun padamu dan menyiksa batinmu pula).
Kelak, akan ada saatnya engkau belajar mengerti bahwa saat engkau meninggalkan Tuhan, maka seisi duniamu akan runtuh perlahan-lahan, sampai pada titik di mana patahlah hatimu dan engkau akan mencariNya lagi. Demikianlah kecemburuanNya, dan tidak ada yang salah dari perbuatanNya. Saat engkau menjauh sementara Dia menyayangimu, maka akan diberinya engkau derita. Agar engkau teringat, agar dosamu terbayarkan dengan luka dunia.
Kelak, engkau akan sedemikian berharap untuk menangis, namun air mata itu tak juga datang. Engkau akan sedemikian memaksa untuk berteriak, namun bahkan parau duka pun tak bisa lagi keluar dari tenggorokanmu. Engkau akan menghadapi suatu derita dan justru saat itu engkau hanya dapat tertawa, bertanya-tanya apakah engkau sedang beranjak gila. Ketika ini terjadi, bersabarlah, bersabarlah. Sesungguhnya tiap-tiap kita akan mengalaminya.
Kelak, engkau akan mengecewakan beberapa manusia, dan sungguh, betapa hal tersulit di dunia ini adalah ketika engkau harus berurusan dengan manusia dan kepentingan-kepentingannya. Juga kepentinganmu. Maka seandainya saja ini sesuatu yang benar, sungguh betapa aku ingin memintamu menjauhkan dirimu sejauh-jauhnya dari peliknya sifat manusia. Jangan jauhi permasalahan mereka, namun jauhi sejauh-jauhnya keburukan yang nyata di hadapmu.
Kelak, akan ada saatnya di mana menjadi sabar bukanlah suatu pilihan, namun adalah keharusan. Bahwa tanpanya, engkau tak dapat hidup. Tidak. Tidak dapat sedikitpun. Dunia beranjak membusuk, anakku. Entah itu engkau menjadi gila, atau menjadi sabar. Dua-duanya pahit, tetapi dunia ini memang sungguh pahit.
Kelak, akan ada saatnya kita dapat berjumpa dan saling bercerita. Dengan ini, kukaitkan harapku, impi dan laraku.
Kelak, anakku.
Siapa menyayangi, disayangi.
Baru pertama kujumpai bahwa akan ada masanya dalam hidupku, aku akan berhadapan dengan pilihan-pilihan di mana semua pilihan akan memiliki pahitnya sendiri. Aku masih mencernanya di hati, mencoba melihat di mana aku telah berbuat kesalahan, berbuat kebenaran.
Aku ini penakut, pengecut, dan pemalas. Kau tahu?
Aku telah berkorban dan berjuang untuk sesuatu, dan untuk itu aku harus mengorbankan sesuatu yang lain lagi. Aku telah jatuh bangun membantumu, namun aku pun juga bersalah telah bersantai-santai dan sesekali tak mengindahkanmu.
Ya Allah, tak putus-putus aku mengagumi keahlianMu merangkai kisahku. Sungguh. Dan betapa aku ini terus mengkhianati. Mengkhianati. Aku ini munafik, ya Allah. Aku ini.. aku ini.. aku kehabisan kata-kata, ya Allah.
Selama kaki belum menjejak surga, perjuangan masih belum berakhir, katanya. Dan aku ini belum lagi apa. Belum lagi apa. Luka-luka masih akan menutup. Kesalahan-kesalahan entah bagaimana semoga terobati.
Aku ini perasa, peragu, dan penuh paranoia. Kau tahu?
Sakit apa lagi ini yang coba aku hindari? Hei, tak bisakah engkau lebih berterima kasih? Ah, tetapi benarkah aku berharap diberi ucapan semacam itu? Aku hanya ingin dihargai, barangkali. Dan diperlakukan sebagaimana siapapun akan memperlakukan orang-orang yang membantu mereka.
Siapa menyayangi, disayangi.
Inikah obat untukku?