Impilara


Hanya Malam Ini.

Ditulis dalam Impi oleh Impilara pada Desember 29, 2008

Yang Mulia Tuhanku,
memang hanya malam ini sujudku sungguh.

Engkau tahu persis betapa aku bersyukur
menyadari Engkau Maha Lebih Penyayang.

Comments Off

Sedang Tidak Cukup Berharga

Ditulis dalam Impi oleh Impilara pada Desember 29, 2008

Sedang tidak cukup berharga di mataku gemerlapmu malam ini,
dunia, jadi tarian seperti apapun ini yang kau taburkan
di depan kedua mataku selain ia tak lebih sekedar sampah
adalah juga penambah panjang alasan berikutnya untukku
membencimu.

Aku tidak sedang main-main, dunia, jadi menyingkirlah atau
diam: malam ini sungguh aku siap membuang nyawa untuk
meruntuhkanmu sehancur-hancurnya, jadi merunduklah atau
diam: malam ini amarahku lebih dari cukup untuk hentikan
rotasimu.

Sedemikian dungukah engkau (dan tentu saja engkau terlalu dungu)
dengan keyakinanmu bahwa engkau menguasai tiap-tiap malam?
Tidak malam ini, dunia, tidak malam ini. Malam ini engkau
debu yang terserak tanpa daya di sudut tak berarti dalam
jiwaku.

Terlalu lama aku mengenal busuk dan hingar bingar nyanyianmu,
dunia, dan engkau adalah pendendang yang luar biasa
menyedihkan: melodimu sumbang dan engkau tak pernah benar
sanggup bercerita melainkan tentang impi palsu yang terus saja jadi
andalanmu.

Dengan ini kurampas kembali kunci-kunci hatiku yang kaucuri,
dunia. Setidaknya saat ini engkau tak lagi ada tempat di sini,
pergi kau dan bawa serta setan-setan amatiran ini
Apa hanya pengecut-pengecut kecil yang selalu lari dari nama Tuhan ini
pengawalmu?

Oh? Apa yang kudengar ini? Engkau keberatan?

Kemari, dungu, datang bawa persenjataanmu dan kumpulkan lagi
pasukan-pasukan tanpa dayamu itu. Malam ini kita berperang dan kau
lihat dan pastikan dengan kedua mata terkutukmu itu bahwa
malam ini,

tak ada jalan bagimu untuk menang atasku.

Comments Off

Lalai.

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Desember 19, 2008

Engkau bisa saja berpendapat bahwa hidupmu kini adalah segala-galanya. Tetapi suatu hari semua itu akan runtuh dan engkau seperti biasa akan meratap berharap mendapat tempat kembali. Maka yang kami sayangkan adalah bagaimana engkau dengan ringannya mengabaikan tempat ini. Rumahmu. Perlindunganmu.

Engkau bisa saja berdalih bahwa kesibukanmu kini adalah segala-galanya. Tetapi suatu hari semua jaring-jaring pengaman yang mulanya kau anggap kokoh itu akan terlepas satu-persatu, karena sejatinya mereka tak sungguh-sungguh ada untukmu, tak sungguh-sungguh tahu tentangmu, tak punya cukup alasan untuk berkorban untukmu. Maka yang kami sayangkan adalah bagaimana engkau dengan mudahnya menganggap semua itu takkan usai dan oleh karenanya kau biarkan dirimu terbuai.

Engkau lalai.

Suatu saat nanti engkau akan harus pulang lagi kepada kami di sini. Tidak bisa tidak. Sedalam apapun engkau terlupa hari ini. Sekeras apapun hatimu hari ini.

Pulang.

Engkau tak lagi sempat menyadari perubahan-perubahan pada hatimu karena hidupmu kini menuntutmu terus berlari. Namu setelah semua ini usai dan keruntuhan-keruntuhan memaksamu untuk mendalami jiwamu sekali lagi, engkau akan melihat apa yang tergambar jelas di hadapan kami detik ini:

Bahwa engkau, pada akhirnya, tak benar-benar tahu apa semua pengorbanan yang telah kau bayarkan, yang tengah kau perjuangkan, yang hari ini kau berharap senantiasa dapat bersandar kepadanya. Bahwa dalam ketergesaanmu, engkau tak lagi jujur memaknai apa yang telah kau pinggirkan demi apa-apa yang kau peroleh hari ini.

Sekarang atau nanti, kami tetap akan menjagamu. Masih dengan naungan yang sama. Masih dengan hangat yang sama. Maka semoga engkau tercerahkan. Karena dinding-dinding ini tak sekokoh yang kami kira. Karena badai yang menghantam lambat laun meretakkan dan menghempaskan.

Comments Off