Impilara


Teman Seperjalanan.

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Maret 30, 2009

Bawa telapak tanganmu di hadapanmu.

Amati jari-jemarimu. Permukaannya yang gemetar dan berdetak oleh nadi dan arteri. Kepalkan genggamanmu sekuat-kuatnya. Lepaskan. Putar pergelangan tanganmu. Perintahkan apa saja padanya.

Maka tidakkah engkau melihat?

Telapak tangan dan jari-jemarimu akan melakukan apapun untukmu. Untuk keinginanmu. Meski menggeletar ia oleh dingin, oleh panas, oleh hujan, oleh lapar.

Juga telapak kakimu. Juga lenganmu. Juga debar jantung dan kelopak matamu.

Sesungguhnya engkau tak pernah sungguh-sungguh kesepian dan ditinggalkan.

Comments Off

Belajarlah Engkau untuk Tidak…

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Maret 30, 2009

Belajarlah engkau untuk tidak, Impilara, belajarlah engkau untuk tidak.

Untuk tidak.

Engkau tahu pasti apa-apa yang dapat kau terakan di akhir kalimat itu.

Belajarlah engkau.

Comments Off

Tentang Mimpi

Ditulis dalam Impi, Lara oleh Impilara pada Maret 29, 2009

Mimpi adalah satu kondisi yang menurutmu lebih baik dari kondisi sekarang. Ada dua jenisnya: mimpi mengenai satu keadaan di dunia, mimpi mengenai keadaan di akhirat. Untuk jenis yang terakhir siapapun memiliki mimpi yang sama, harapan yang sama. Maka ia tak lagi menjadi sebuah mimpi, melainkan satu fitrah. Satu konstanta. Satu keniscayaan yang tidak perlu diperpanjang.

Maka untuk selanjutnya mimpi adalah harapan tentang keadaan-keadaan di dunia. Yang lebih indah dari sekarang. Lebih ideal dari sekarang.

Apa benar begitu?

Satu hal yang engkau perlu tahu tentang mimpi, Impilara, adalah bahwa engkau tak pernah sungguh-sungguh tahu apa yang baik untuk dirimu. Benarkah rumah sederhana dengan rumput halaman yang sesekali tak terurus itu baik untukmu? Sungguhkah gaji yang lebih tinggi dari sekarang, jenjang karir yang di atas sekarang, adalah pertanda pasti ia kebaikan yang menghampirimu? Atas dasar apa engkau memutuskan bahwa hal-hal yang menyenangkan—aku tak yakin engkau pernah memimpikan sesuatu yang menyedihkan untukmu sendiri—otomatis juga baik untukmu?

Sepandai apa engkau membaca efek segala sesuatu bagi dirimu sendiri?

Dan lebih celaka lagi bahwa kemudian impian itu yang menentukan tindakanmu. Langkahmu. Engkau membangun dan menyusun deret jalan panjang dari tempatmu berdiri sekarang menuju satu titik impian itu, di kejauhan. Lalu dengan patuh engkau menjalaninya, memodifikasi menyusun ulang hidupmu untuk dapat menerima kedatangan mimpi-mimpi itu nantinya.

Lalu engkau jatuh dan luka ketika segala macam hal yang datang menjauhkanmu dari impian itu. Engkau menolak bersyukur.

Lalu engkau dengan pongah mendadak merasa Tuhan berpihak kepadamu ketika impian itu seolah sedikit mendekat padamu. Engkau menganggap dirimu suci.

Impian-impian itu merantai jiwamu.

Semenjak engkau berfantasi tentangnya, saat engkau menyusun rencana, ketika dia pada akhirnya datang atau tidak datang padamu, rantai-rantai itu mengikat. Erat.

Maka kini aku bertanya padamu. Untuk apa engkau bermimpi?

Engkau dan aku sama-sama tahu bahwa kita sekedar belajar tentang impian dan angan-angan dari ceritera. Dari nyanyian. Dari gemerlap dunia, yang lalu kita perlahan teracuni olehnya. Dari para penjaja mimpi di televisi, yang dengan rutin mengingatkanmu bahwa kulitmu kurang putih, tubuhmu kurang tinggi, tulangmu kurang kuat, bayi-bayimu kurang cerdas, kendaraanmu kurang lesat.

Dari sana, bukan?

Mereka yang bertanggung jawab membentuk konsep di dalam kepala kita tentang apa itu impian. Percaya, engkau, pada mereka?

Tetapi tanpa mimpi hidupku tanpa arah, protesmu. Tanpa motivasi.

Yang tentu saja adalah ucapan yang luar biasa bodoh sementara kamu sudah bersyahadat. Sudah punya Islam di jiwamu. Bagaimana engkau bisa berujar tak punya arah sementara agamamu mengajarkanmu bagaimana harus bereaksi pada segala macam hal?

Padahal Tuhanmu itu telah dengan baiknya mengizinkanmu untuk gagal. Untuk berpikir dan sampai pada kesimpulan yang salah, selama engkau telah sungguh berusaha dan bersedia mengakui yang lebih benar darimu.

Padahal impian-impian itu erat mencekikmu dalam rantai-rantai obsesinya sebelum engkau merengkuhnya. Padahal ia merajam habis jiwamu dan meruntuhkan segala yang kau kenal tentang dirimu sendiri kala engkau gagal mendapatinya.

Masih inginkah kau bermimpi?

Comments Off

Lihat.

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Maret 29, 2009

Lihatlah, Impilara. Lihat. Pada dirimu sendiri, pada jejak langkahmu dulu dan kini. Berhenti sejenak dari hidupmu dan lihatlah.

Ya.

Jejak-jejakmu berputar, menyimpang, tak tentu arah. Lalu kembali lagi tepat di sini. Sekali lagi di sini. Seperti engkau dulu berawal. Sebagaimana engkau dulu memulai.

Bertahun berlalu, Impilara. Hati dan peristiwa. Tetapi engkau yang kini pada akhirnya adalah produk dari stagnansi. Terhambur hilang waktumu, Impilara. Hilang. Meski dengan entengnya engkau menganggap dirimu meningkat, bertambah, belajar. Dusta.

Ya, baru kali ini kulihat engkau merasa malu. Rasa malu yang jika dua tiga tahun lalu menghampiri hatimu yang pongah dan menolak merasa bersalah itu tentu terselamatkan engkau dari dirimu sendiri hari ini.

Engkau hari ini, Impilara, adalah kegagalan.

Maka kau bunuh mimpimu. Selamat.

Mari kita berbincang sekali lagi.

Comments Off