Impilara


Selagi Aku Ingat, Tuhan…

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Agustus 17, 2009

”…dan lelaki adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…” (HR Bukhari-Muslim)

Selagi aku ingat, Tuhan, mohon perdalam rasa takut dalam dadaku oleh karena ujar RasulMu tadi.

Comments Off

Kuanggap Engkau Aku.

Ditulis dalam Impi oleh Impilara pada Agustus 17, 2009

Kuanggap engkau aku,
maka kumaki dirimu sebagaimana
aku pada diriku sendiri.

Selanjutnya akan belajar aku
mencintaimu lebih dari
aku pada diriku sendiri,

namun ketahuilah bahwa
sejujurnya tutur dan langkahku adalah
karena kuanggap engkau
aku.

Comments Off

Aku Bersaksi Aku.

Ditulis dalam Impi oleh Impilara pada Agustus 17, 2009

Aku bersaksi bahwasanya aku
bukan seorang muslim yang benar, karena
Ramadhan datang bertamu dan aku tidak
menjamunya sebagaimana
sepatutnya ia dijamu:
dengan hormat dan cinta.

Aku bersaksi bahwasanya aku
telah gagal dan kehilangan Laliatul Qadar, malah
sejujur-jujurnya di hatiku sama sekali
tidak terasa nilai dan harganya sebesar apa,
sebanyak apa, semulia apa,
sementara aku dengan sombongnya berprasangka
bahwa solatku dan puasaku dan sedekahku
yang remeh dan tidak seberapa
akan sanggup memberiku lebih dari
apa yang bisa diberikan
malam seribu bulan.

Dan aku sungguh-sungguh bersaksi bahwa
“Untuk apa mudaku sebelum waktu tuaku?” Lalai.
“Untuk apa sehatku sebelum sakitku?” Lalai.
“Untuk apa kekayaanku sebelum masa kefakiranku?” Lalai.
“Untuk apa luangku sebelum datang kesibukanku?” Lalai.
“Untuk apa hidup sebelum waktu ajalku?” Lalai.

Dan aku bersaksi bahwa
saat ini juga aku
memohon
ampun.

Comments Off

Di Pekuburan Anganku.

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Agustus 17, 2009

Mari ucapkan bersama-sama denganku:

“Angan adalah sayap yang diharap-harapkan mereka yang menolak berjalan dengan kakinya sendiri.”

“Angan adalah sayap yang diharap-harapkan mereka yang menolak berjalan dengan kakinya sendiri.”

“Angan adalah sayap yang diharap-harapkan mereka yang menolak berjalan dengan kakinya sendiri.”

Di pekuburan anganku ini aku menamparmu.

Selamat jalan, doakan aku segera menemukan berlari ke mana jiwaku yang kerdil, bersembunyi di mana ketegasannya yang dipudarkan dunia.

Atau tentu, di sisiku jalan masih cukup untuk menampung jejak langkahmu. Yang mana pun, terus aku akan belajar mencintaimu atas nama Tuhan.

Comments Off