Impilara


Kuanggap Engkau Aku.

Ditulis dalam Impi oleh Impilara pada Agustus 17, 2009

Kuanggap engkau aku,
maka kumaki dirimu sebagaimana
aku pada diriku sendiri.

Selanjutnya akan belajar aku
mencintaimu lebih dari
aku pada diriku sendiri,

namun ketahuilah bahwa
sejujurnya tutur dan langkahku adalah
karena kuanggap engkau
aku.

Comments Off

Aku Bersaksi Aku.

Ditulis dalam Impi oleh Impilara pada Agustus 17, 2009

Aku bersaksi bahwasanya aku
bukan seorang muslim yang benar, karena
Ramadhan datang bertamu dan aku tidak
menjamunya sebagaimana
sepatutnya ia dijamu:
dengan hormat dan cinta.

Aku bersaksi bahwasanya aku
telah gagal dan kehilangan Laliatul Qadar, malah
sejujur-jujurnya di hatiku sama sekali
tidak terasa nilai dan harganya sebesar apa,
sebanyak apa, semulia apa,
sementara aku dengan sombongnya berprasangka
bahwa solatku dan puasaku dan sedekahku
yang remeh dan tidak seberapa
akan sanggup memberiku lebih dari
apa yang bisa diberikan
malam seribu bulan.

Dan aku sungguh-sungguh bersaksi bahwa
“Untuk apa mudaku sebelum waktu tuaku?” Lalai.
“Untuk apa sehatku sebelum sakitku?” Lalai.
“Untuk apa kekayaanku sebelum masa kefakiranku?” Lalai.
“Untuk apa luangku sebelum datang kesibukanku?” Lalai.
“Untuk apa hidup sebelum waktu ajalku?” Lalai.

Dan aku bersaksi bahwa
saat ini juga aku
memohon
ampun.

Comments Off

Tentang Mimpi

Ditulis dalam Impi, Lara oleh Impilara pada Maret 29, 2009

Mimpi adalah satu kondisi yang menurutmu lebih baik dari kondisi sekarang. Ada dua jenisnya: mimpi mengenai satu keadaan di dunia, mimpi mengenai keadaan di akhirat. Untuk jenis yang terakhir siapapun memiliki mimpi yang sama, harapan yang sama. Maka ia tak lagi menjadi sebuah mimpi, melainkan satu fitrah. Satu konstanta. Satu keniscayaan yang tidak perlu diperpanjang.

Maka untuk selanjutnya mimpi adalah harapan tentang keadaan-keadaan di dunia. Yang lebih indah dari sekarang. Lebih ideal dari sekarang.

Apa benar begitu?

Satu hal yang engkau perlu tahu tentang mimpi, Impilara, adalah bahwa engkau tak pernah sungguh-sungguh tahu apa yang baik untuk dirimu. Benarkah rumah sederhana dengan rumput halaman yang sesekali tak terurus itu baik untukmu? Sungguhkah gaji yang lebih tinggi dari sekarang, jenjang karir yang di atas sekarang, adalah pertanda pasti ia kebaikan yang menghampirimu? Atas dasar apa engkau memutuskan bahwa hal-hal yang menyenangkan—aku tak yakin engkau pernah memimpikan sesuatu yang menyedihkan untukmu sendiri—otomatis juga baik untukmu?

Sepandai apa engkau membaca efek segala sesuatu bagi dirimu sendiri?

Dan lebih celaka lagi bahwa kemudian impian itu yang menentukan tindakanmu. Langkahmu. Engkau membangun dan menyusun deret jalan panjang dari tempatmu berdiri sekarang menuju satu titik impian itu, di kejauhan. Lalu dengan patuh engkau menjalaninya, memodifikasi menyusun ulang hidupmu untuk dapat menerima kedatangan mimpi-mimpi itu nantinya.

Lalu engkau jatuh dan luka ketika segala macam hal yang datang menjauhkanmu dari impian itu. Engkau menolak bersyukur.

Lalu engkau dengan pongah mendadak merasa Tuhan berpihak kepadamu ketika impian itu seolah sedikit mendekat padamu. Engkau menganggap dirimu suci.

Impian-impian itu merantai jiwamu.

Semenjak engkau berfantasi tentangnya, saat engkau menyusun rencana, ketika dia pada akhirnya datang atau tidak datang padamu, rantai-rantai itu mengikat. Erat.

Maka kini aku bertanya padamu. Untuk apa engkau bermimpi?

Engkau dan aku sama-sama tahu bahwa kita sekedar belajar tentang impian dan angan-angan dari ceritera. Dari nyanyian. Dari gemerlap dunia, yang lalu kita perlahan teracuni olehnya. Dari para penjaja mimpi di televisi, yang dengan rutin mengingatkanmu bahwa kulitmu kurang putih, tubuhmu kurang tinggi, tulangmu kurang kuat, bayi-bayimu kurang cerdas, kendaraanmu kurang lesat.

Dari sana, bukan?

Mereka yang bertanggung jawab membentuk konsep di dalam kepala kita tentang apa itu impian. Percaya, engkau, pada mereka?

Tetapi tanpa mimpi hidupku tanpa arah, protesmu. Tanpa motivasi.

Yang tentu saja adalah ucapan yang luar biasa bodoh sementara kamu sudah bersyahadat. Sudah punya Islam di jiwamu. Bagaimana engkau bisa berujar tak punya arah sementara agamamu mengajarkanmu bagaimana harus bereaksi pada segala macam hal?

Padahal Tuhanmu itu telah dengan baiknya mengizinkanmu untuk gagal. Untuk berpikir dan sampai pada kesimpulan yang salah, selama engkau telah sungguh berusaha dan bersedia mengakui yang lebih benar darimu.

Padahal impian-impian itu erat mencekikmu dalam rantai-rantai obsesinya sebelum engkau merengkuhnya. Padahal ia merajam habis jiwamu dan meruntuhkan segala yang kau kenal tentang dirimu sendiri kala engkau gagal mendapatinya.

Masih inginkah kau bermimpi?

Comments Off

Pencerahan I

Ditulis dalam Impi oleh Impilara pada Januari 7, 2009

Hari ini aku mengerti bahwa
sedemikian mudahnya PengampunanMu itu
adalah caraMu untuk menunjukkan
seberapa besar KekuasaanMu,

bahwa Engkau sedemikian Perkasa
hingga tak ada ruginya bagiMu sama sekali
melupakan dan mengabaikan
semua dosa-dosa kami yang
mengenaliMu

dan menganggapMu tak sampai berkenan
mengampuniku adalah sama aku
merasa cukup perkasa seakan-akan
dapat mempengaruhi, menggoyahkan
KemurahhatianMu,

jadi
aku tak berani.

Comments Off

Hanya Malam Ini.

Ditulis dalam Impi oleh Impilara pada Desember 29, 2008

Yang Mulia Tuhanku,
memang hanya malam ini sujudku sungguh.

Engkau tahu persis betapa aku bersyukur
menyadari Engkau Maha Lebih Penyayang.

Comments Off

Sedang Tidak Cukup Berharga

Ditulis dalam Impi oleh Impilara pada Desember 29, 2008

Sedang tidak cukup berharga di mataku gemerlapmu malam ini,
dunia, jadi tarian seperti apapun ini yang kau taburkan
di depan kedua mataku selain ia tak lebih sekedar sampah
adalah juga penambah panjang alasan berikutnya untukku
membencimu.

Aku tidak sedang main-main, dunia, jadi menyingkirlah atau
diam: malam ini sungguh aku siap membuang nyawa untuk
meruntuhkanmu sehancur-hancurnya, jadi merunduklah atau
diam: malam ini amarahku lebih dari cukup untuk hentikan
rotasimu.

Sedemikian dungukah engkau (dan tentu saja engkau terlalu dungu)
dengan keyakinanmu bahwa engkau menguasai tiap-tiap malam?
Tidak malam ini, dunia, tidak malam ini. Malam ini engkau
debu yang terserak tanpa daya di sudut tak berarti dalam
jiwaku.

Terlalu lama aku mengenal busuk dan hingar bingar nyanyianmu,
dunia, dan engkau adalah pendendang yang luar biasa
menyedihkan: melodimu sumbang dan engkau tak pernah benar
sanggup bercerita melainkan tentang impi palsu yang terus saja jadi
andalanmu.

Dengan ini kurampas kembali kunci-kunci hatiku yang kaucuri,
dunia. Setidaknya saat ini engkau tak lagi ada tempat di sini,
pergi kau dan bawa serta setan-setan amatiran ini
Apa hanya pengecut-pengecut kecil yang selalu lari dari nama Tuhan ini
pengawalmu?

Oh? Apa yang kudengar ini? Engkau keberatan?

Kemari, dungu, datang bawa persenjataanmu dan kumpulkan lagi
pasukan-pasukan tanpa dayamu itu. Malam ini kita berperang dan kau
lihat dan pastikan dengan kedua mata terkutukmu itu bahwa
malam ini,

tak ada jalan bagimu untuk menang atasku.

Comments Off

Untuk Anakku

Ditulis dalam Impi, Lara oleh Impilara pada Mei 14, 2007

Kelak, akan ada saatnya di mana engkau akan harus memilih. Dan tiap pilihan adalah derita untukmu. Sekalipun, sekalipun, engkau tetap akan harus memilih, karena tanpa memilih maka semua derita dari tiap-tiap pilihan itu justru akan datang bersamaan padamu.

Kelak, akan ada saatnya di mana engkau akan berbuat kesalahan dan tak ada jalan keluar ataupun beralasan. Sesungguhnya penebusan dari kesalahan itu tidak akan mudah, engkau akan harus menelan semua pahitnya sementara seisi dunia seolah membencimu (maafkan aku jika paranoiaku menurun padamu dan menyiksa batinmu pula).

Kelak, akan ada saatnya engkau belajar mengerti bahwa saat engkau meninggalkan Tuhan, maka seisi duniamu akan runtuh perlahan-lahan, sampai pada titik di mana patahlah hatimu dan engkau akan mencariNya lagi. Demikianlah kecemburuanNya, dan tidak ada yang salah dari perbuatanNya. Saat engkau menjauh sementara Dia menyayangimu, maka akan diberinya engkau derita. Agar engkau teringat, agar dosamu terbayarkan dengan luka dunia.

Kelak, engkau akan sedemikian berharap untuk menangis, namun air mata itu tak juga datang. Engkau akan sedemikian memaksa untuk berteriak, namun bahkan parau duka pun tak bisa lagi keluar dari tenggorokanmu. Engkau akan menghadapi suatu derita dan justru saat itu engkau hanya dapat tertawa, bertanya-tanya apakah engkau sedang beranjak gila. Ketika ini terjadi, bersabarlah, bersabarlah. Sesungguhnya tiap-tiap kita akan mengalaminya.

Kelak, engkau akan mengecewakan beberapa manusia, dan sungguh, betapa hal tersulit di dunia ini adalah ketika engkau harus berurusan dengan manusia dan kepentingan-kepentingannya. Juga kepentinganmu. Maka seandainya saja ini sesuatu yang benar, sungguh betapa aku ingin memintamu menjauhkan dirimu sejauh-jauhnya dari peliknya sifat manusia. Jangan jauhi permasalahan mereka, namun jauhi sejauh-jauhnya keburukan yang nyata di hadapmu.

Kelak, akan ada saatnya di mana menjadi sabar bukanlah suatu pilihan, namun adalah keharusan. Bahwa tanpanya, engkau tak dapat hidup. Tidak. Tidak dapat sedikitpun. Dunia beranjak membusuk, anakku. Entah itu engkau menjadi gila, atau menjadi sabar. Dua-duanya pahit, tetapi dunia ini memang sungguh pahit.

Kelak, akan ada saatnya kita dapat berjumpa dan saling bercerita. Dengan ini, kukaitkan harapku, impi dan laraku.

Kelak, anakku.

Comments Off

Tentang Perasaanku

Ditulis dalam Impi oleh Impilara pada April 15, 2007

Suatu saat nanti, kuharap ada masanya di mana tidak perlu ada lagi yang sedemikian dapat mengguncang jiwaku: entah itu dalam harap ataukah duka. Suatu saat nanti, kuharap dapat kucapai keadaan itu.

Keadaan di mana dukaku, tawaku, terpaut hanya padaNya: ridha-Nya, amarah-Nya.

Ya Allah semoga kekebalanku terhadap beberapa pedih ini adalah anugerahMu, bukanlah apatisme yang makin lama kian menguasai jiwaku.

Ya Allah tunjuki aku, tuntun aku, ampuni aku dan maksiatku; buih-buih di ombak lautan, debu angkasa di antara bintang-gemintang.

Comments Off

Jadikanlah Aku Sabar

Ditulis dalam Impi oleh Impilara pada April 15, 2007

Duhai Tuhanku, Yang Maha Kaya, Maha Pengampun.

Maka benarlah firmanMu pada Al Baqarah 26, bahwa sebagian dari manusia akan menjadi musuh dan cobaan bagi sebagian yang lain. Beberapa makhlukMu pun kini tengah menjadi cobaan untuk hariku ini, Allah.

Mohon jadikanlah aku sabar.

Jadikanlah aku banyak bersyukur, banyak bersabar, dan banyak mengingatMu, Ya Allah. Sesungguhnya andai sungguh-sungguh kudengarkan suara kecil di dalam hatiku yang juga kecil, akan kudengar pengakuan bahwa aku pun, layaknya Zakaria, belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau.

Comments Off

Allah, Aku Ingin Menjadi Kaya

Ditulis dalam Impi oleh Impilara pada April 14, 2007

Sungguh, karena kulihat anak-anak itu terlantar, Tuhanku. Diacuhkan bapak ibunya. Dilupakan oleh bangsanya. Dikhianati pemerintahnya sendiri, sekalipun telah ada sumpah mereka dalam Undang-Undang Dasarnya sendiri bahwa mereka akan selalu terpelihara.

Di perempatan jalan. Menggigil menahan dingin seusai hujan siang tadi.

Allah, aku ingin menjadi kaya.

Biar kubeli seisi Jawa ini, kujadikan sekolah dan taman bermain untuk mereka. Biar kubeli gedung DPR, akan kujadikan masjid, Tuhanku, semoga bumi tak lagi menangisi sepetak wilayah itu dan segala hiruk-pikuk pelacuran di atasnya.

Allah, sesungguhnya aku bersaksi bahwasanya andai hendak Engkau kabulkan do’aku, tak akan berkurang sedikitpun apa yang ada dalam kepemilikan-Mu. Allah, sesungguhnya aku bersaksi bahwasanya aku tidak mengharapkan siapapun dan apapun mengabulkan do’aku, melainkan hanya dariMu yang kucari; sesungguhnya aku meyakini bahwasanya tidak siapapun dan apapun yang sanggup mengabulkannya, melainkan Engkau.

Maka mohon dengarkanlah.

Comments Off
Halaman Berikutnya »