Impilara


Selagi Aku Ingat, Tuhan…

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Agustus 17, 2009

”…dan lelaki adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…” (HR Bukhari-Muslim)

Selagi aku ingat, Tuhan, mohon perdalam rasa takut dalam dadaku oleh karena ujar RasulMu tadi.

Comments Off

Di Pekuburan Anganku.

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Agustus 17, 2009

Mari ucapkan bersama-sama denganku:

“Angan adalah sayap yang diharap-harapkan mereka yang menolak berjalan dengan kakinya sendiri.”

“Angan adalah sayap yang diharap-harapkan mereka yang menolak berjalan dengan kakinya sendiri.”

“Angan adalah sayap yang diharap-harapkan mereka yang menolak berjalan dengan kakinya sendiri.”

Di pekuburan anganku ini aku menamparmu.

Selamat jalan, doakan aku segera menemukan berlari ke mana jiwaku yang kerdil, bersembunyi di mana ketegasannya yang dipudarkan dunia.

Atau tentu, di sisiku jalan masih cukup untuk menampung jejak langkahmu. Yang mana pun, terus aku akan belajar mencintaimu atas nama Tuhan.

Comments Off

Teman Seperjalanan.

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Maret 30, 2009

Bawa telapak tanganmu di hadapanmu.

Amati jari-jemarimu. Permukaannya yang gemetar dan berdetak oleh nadi dan arteri. Kepalkan genggamanmu sekuat-kuatnya. Lepaskan. Putar pergelangan tanganmu. Perintahkan apa saja padanya.

Maka tidakkah engkau melihat?

Telapak tangan dan jari-jemarimu akan melakukan apapun untukmu. Untuk keinginanmu. Meski menggeletar ia oleh dingin, oleh panas, oleh hujan, oleh lapar.

Juga telapak kakimu. Juga lenganmu. Juga debar jantung dan kelopak matamu.

Sesungguhnya engkau tak pernah sungguh-sungguh kesepian dan ditinggalkan.

Comments Off

Belajarlah Engkau untuk Tidak…

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Maret 30, 2009

Belajarlah engkau untuk tidak, Impilara, belajarlah engkau untuk tidak.

Untuk tidak.

Engkau tahu pasti apa-apa yang dapat kau terakan di akhir kalimat itu.

Belajarlah engkau.

Comments Off

Tentang Mimpi

Ditulis dalam Impi, Lara oleh Impilara pada Maret 29, 2009

Mimpi adalah satu kondisi yang menurutmu lebih baik dari kondisi sekarang. Ada dua jenisnya: mimpi mengenai satu keadaan di dunia, mimpi mengenai keadaan di akhirat. Untuk jenis yang terakhir siapapun memiliki mimpi yang sama, harapan yang sama. Maka ia tak lagi menjadi sebuah mimpi, melainkan satu fitrah. Satu konstanta. Satu keniscayaan yang tidak perlu diperpanjang.

Maka untuk selanjutnya mimpi adalah harapan tentang keadaan-keadaan di dunia. Yang lebih indah dari sekarang. Lebih ideal dari sekarang.

Apa benar begitu?

Satu hal yang engkau perlu tahu tentang mimpi, Impilara, adalah bahwa engkau tak pernah sungguh-sungguh tahu apa yang baik untuk dirimu. Benarkah rumah sederhana dengan rumput halaman yang sesekali tak terurus itu baik untukmu? Sungguhkah gaji yang lebih tinggi dari sekarang, jenjang karir yang di atas sekarang, adalah pertanda pasti ia kebaikan yang menghampirimu? Atas dasar apa engkau memutuskan bahwa hal-hal yang menyenangkan—aku tak yakin engkau pernah memimpikan sesuatu yang menyedihkan untukmu sendiri—otomatis juga baik untukmu?

Sepandai apa engkau membaca efek segala sesuatu bagi dirimu sendiri?

Dan lebih celaka lagi bahwa kemudian impian itu yang menentukan tindakanmu. Langkahmu. Engkau membangun dan menyusun deret jalan panjang dari tempatmu berdiri sekarang menuju satu titik impian itu, di kejauhan. Lalu dengan patuh engkau menjalaninya, memodifikasi menyusun ulang hidupmu untuk dapat menerima kedatangan mimpi-mimpi itu nantinya.

Lalu engkau jatuh dan luka ketika segala macam hal yang datang menjauhkanmu dari impian itu. Engkau menolak bersyukur.

Lalu engkau dengan pongah mendadak merasa Tuhan berpihak kepadamu ketika impian itu seolah sedikit mendekat padamu. Engkau menganggap dirimu suci.

Impian-impian itu merantai jiwamu.

Semenjak engkau berfantasi tentangnya, saat engkau menyusun rencana, ketika dia pada akhirnya datang atau tidak datang padamu, rantai-rantai itu mengikat. Erat.

Maka kini aku bertanya padamu. Untuk apa engkau bermimpi?

Engkau dan aku sama-sama tahu bahwa kita sekedar belajar tentang impian dan angan-angan dari ceritera. Dari nyanyian. Dari gemerlap dunia, yang lalu kita perlahan teracuni olehnya. Dari para penjaja mimpi di televisi, yang dengan rutin mengingatkanmu bahwa kulitmu kurang putih, tubuhmu kurang tinggi, tulangmu kurang kuat, bayi-bayimu kurang cerdas, kendaraanmu kurang lesat.

Dari sana, bukan?

Mereka yang bertanggung jawab membentuk konsep di dalam kepala kita tentang apa itu impian. Percaya, engkau, pada mereka?

Tetapi tanpa mimpi hidupku tanpa arah, protesmu. Tanpa motivasi.

Yang tentu saja adalah ucapan yang luar biasa bodoh sementara kamu sudah bersyahadat. Sudah punya Islam di jiwamu. Bagaimana engkau bisa berujar tak punya arah sementara agamamu mengajarkanmu bagaimana harus bereaksi pada segala macam hal?

Padahal Tuhanmu itu telah dengan baiknya mengizinkanmu untuk gagal. Untuk berpikir dan sampai pada kesimpulan yang salah, selama engkau telah sungguh berusaha dan bersedia mengakui yang lebih benar darimu.

Padahal impian-impian itu erat mencekikmu dalam rantai-rantai obsesinya sebelum engkau merengkuhnya. Padahal ia merajam habis jiwamu dan meruntuhkan segala yang kau kenal tentang dirimu sendiri kala engkau gagal mendapatinya.

Masih inginkah kau bermimpi?

Comments Off

Lihat.

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Maret 29, 2009

Lihatlah, Impilara. Lihat. Pada dirimu sendiri, pada jejak langkahmu dulu dan kini. Berhenti sejenak dari hidupmu dan lihatlah.

Ya.

Jejak-jejakmu berputar, menyimpang, tak tentu arah. Lalu kembali lagi tepat di sini. Sekali lagi di sini. Seperti engkau dulu berawal. Sebagaimana engkau dulu memulai.

Bertahun berlalu, Impilara. Hati dan peristiwa. Tetapi engkau yang kini pada akhirnya adalah produk dari stagnansi. Terhambur hilang waktumu, Impilara. Hilang. Meski dengan entengnya engkau menganggap dirimu meningkat, bertambah, belajar. Dusta.

Ya, baru kali ini kulihat engkau merasa malu. Rasa malu yang jika dua tiga tahun lalu menghampiri hatimu yang pongah dan menolak merasa bersalah itu tentu terselamatkan engkau dari dirimu sendiri hari ini.

Engkau hari ini, Impilara, adalah kegagalan.

Maka kau bunuh mimpimu. Selamat.

Mari kita berbincang sekali lagi.

Comments Off

Pesan.

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Januari 5, 2009

Ini yang ingin kukatakan padaku sendiri:

“Bajingan terkutuk itu ada agar engkau
melihat ke dalam dirimu sendiri, menakar dalam
apakah sudah sebenar-benarnya lurus jalanmu
sebagai manusia sehingga tak ada dosa lagi
bagimu memanggil orang lain ‘bajingan’.

Sampah keparat itu dihadirkan padamu agar engkau
mengambil nafas dalam-dalam dan menyadari bahwa
denyut jantung yang mendadak kau sadari keberadaannya
itu tidak akan berdetak selamanya, bahwa jatah
hidupmu kian berkurang kian lama kau mendengarnya.

Setan busuk itu muncul dalam hidupmu agar engkau
diam. Diam. Diam. Diam. Diam dan diam. Juga
dalam amuk gelapmu yang lepas kendali. Juga
dalam kehancuran yang menurut pandanganmu pantas dihadirkan,
dalam nyala amarahmu yang tak bisa padam.”

Dan ini yang akan kujawab padaku sendiri:

“Aku mendengarmu.
Aku ingin tunduk dan berserah.”

Lalu aku akan berpesan padaku sendiri:

“Setelah sanggup kaukalahkan dirimu sendiri,
dilimpahkan oleh Tuhan ke dalam genggamanmu
semesta ini.”

Comments Off

Singa.

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Januari 5, 2009

Ketika datang tuntutan amarah yang
diwajibkan atasmu:
lepaskanlah singa di jiwamu.

Meraunglah
mencabiklah
menghantamlah
meleburlah

darah-darahmu
semburkanlah, dan
belulangmu
remukkanlah

Atas apa yang sepantasnya dibela
buang, jual,
biar lepas pergi nyawamu

Tunjukkan pada
mata-mata itu bahwa engkau

Supernova
demi semua yang kau percaya
demi semua yang kau pelihara.

Comments Off

Lalai.

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Desember 19, 2008

Engkau bisa saja berpendapat bahwa hidupmu kini adalah segala-galanya. Tetapi suatu hari semua itu akan runtuh dan engkau seperti biasa akan meratap berharap mendapat tempat kembali. Maka yang kami sayangkan adalah bagaimana engkau dengan ringannya mengabaikan tempat ini. Rumahmu. Perlindunganmu.

Engkau bisa saja berdalih bahwa kesibukanmu kini adalah segala-galanya. Tetapi suatu hari semua jaring-jaring pengaman yang mulanya kau anggap kokoh itu akan terlepas satu-persatu, karena sejatinya mereka tak sungguh-sungguh ada untukmu, tak sungguh-sungguh tahu tentangmu, tak punya cukup alasan untuk berkorban untukmu. Maka yang kami sayangkan adalah bagaimana engkau dengan mudahnya menganggap semua itu takkan usai dan oleh karenanya kau biarkan dirimu terbuai.

Engkau lalai.

Suatu saat nanti engkau akan harus pulang lagi kepada kami di sini. Tidak bisa tidak. Sedalam apapun engkau terlupa hari ini. Sekeras apapun hatimu hari ini.

Pulang.

Engkau tak lagi sempat menyadari perubahan-perubahan pada hatimu karena hidupmu kini menuntutmu terus berlari. Namu setelah semua ini usai dan keruntuhan-keruntuhan memaksamu untuk mendalami jiwamu sekali lagi, engkau akan melihat apa yang tergambar jelas di hadapan kami detik ini:

Bahwa engkau, pada akhirnya, tak benar-benar tahu apa semua pengorbanan yang telah kau bayarkan, yang tengah kau perjuangkan, yang hari ini kau berharap senantiasa dapat bersandar kepadanya. Bahwa dalam ketergesaanmu, engkau tak lagi jujur memaknai apa yang telah kau pinggirkan demi apa-apa yang kau peroleh hari ini.

Sekarang atau nanti, kami tetap akan menjagamu. Masih dengan naungan yang sama. Masih dengan hangat yang sama. Maka semoga engkau tercerahkan. Karena dinding-dinding ini tak sekokoh yang kami kira. Karena badai yang menghantam lambat laun meretakkan dan menghempaskan.

Comments Off

Dan Lara. Dan Lara.

Ditulis dalam Lara oleh Impilara pada Juli 24, 2007

Lara.

Engkau hanya setetes manusia.

Dan sesungguh-sungguhnya aku ingin sedemikian murka kepadamu.

Dan sesungguh-sungguhnya aku sedemikian berharap untuk membeku dalam kesabaran yang pahit.

Dan sesungguh-sungguhnya aku ingin menamparmu lalu memaafkanmu daripada aku diam lalu menyimpan dendamku hingga di kehidupan nanti sehingga Tuhan akhirnya membalaskan padamu lebih dari sekedar sebuah tamparan.

Dan sesungguh-sungguhnya aku ingin duduk dan tersenyum padamu meski engkau, tanpa perlu kuperpanjang lagi, berlaku kejam.

Dan sesungguh-sungguhnya aku ingin melontarkan serapah dan serapah dan serapah.

Aku ingin diam dan menangis dan luruh.

Aku tidak ingin tahu apa yang kau inginkan.

Comments Off
Halaman Berikutnya »