Singa.
Ketika datang tuntutan amarah yang
diwajibkan atasmu:
lepaskanlah singa di jiwamu.
Meraunglah
mencabiklah
menghantamlah
meleburlah
darah-darahmu
semburkanlah, dan
belulangmu
remukkanlah
Atas apa yang sepantasnya dibela
buang, jual,
biar lepas pergi nyawamu
Tunjukkan pada
mata-mata itu bahwa engkau
Supernova
demi semua yang kau percaya
demi semua yang kau pelihara.
Hanya Malam Ini.
Yang Mulia Tuhanku,
memang hanya malam ini sujudku sungguh.
Engkau tahu persis betapa aku bersyukur
menyadari Engkau Maha Lebih Penyayang.
Sedang Tidak Cukup Berharga
Sedang tidak cukup berharga di mataku gemerlapmu malam ini,
dunia, jadi tarian seperti apapun ini yang kau taburkan
di depan kedua mataku selain ia tak lebih sekedar sampah
adalah juga penambah panjang alasan berikutnya untukku
membencimu.
Aku tidak sedang main-main, dunia, jadi menyingkirlah atau
diam: malam ini sungguh aku siap membuang nyawa untuk
meruntuhkanmu sehancur-hancurnya, jadi merunduklah atau
diam: malam ini amarahku lebih dari cukup untuk hentikan
rotasimu.
Sedemikian dungukah engkau (dan tentu saja engkau terlalu dungu)
dengan keyakinanmu bahwa engkau menguasai tiap-tiap malam?
Tidak malam ini, dunia, tidak malam ini. Malam ini engkau
debu yang terserak tanpa daya di sudut tak berarti dalam
jiwaku.
Terlalu lama aku mengenal busuk dan hingar bingar nyanyianmu,
dunia, dan engkau adalah pendendang yang luar biasa
menyedihkan: melodimu sumbang dan engkau tak pernah benar
sanggup bercerita melainkan tentang impi palsu yang terus saja jadi
andalanmu.
Dengan ini kurampas kembali kunci-kunci hatiku yang kaucuri,
dunia. Setidaknya saat ini engkau tak lagi ada tempat di sini,
pergi kau dan bawa serta setan-setan amatiran ini
Apa hanya pengecut-pengecut kecil yang selalu lari dari nama Tuhan ini
pengawalmu?
Oh? Apa yang kudengar ini? Engkau keberatan?
Kemari, dungu, datang bawa persenjataanmu dan kumpulkan lagi
pasukan-pasukan tanpa dayamu itu. Malam ini kita berperang dan kau
lihat dan pastikan dengan kedua mata terkutukmu itu bahwa
malam ini,
tak ada jalan bagimu untuk menang atasku.
Lalai.
Engkau bisa saja berpendapat bahwa hidupmu kini adalah segala-galanya. Tetapi suatu hari semua itu akan runtuh dan engkau seperti biasa akan meratap berharap mendapat tempat kembali. Maka yang kami sayangkan adalah bagaimana engkau dengan ringannya mengabaikan tempat ini. Rumahmu. Perlindunganmu.
Engkau bisa saja berdalih bahwa kesibukanmu kini adalah segala-galanya. Tetapi suatu hari semua jaring-jaring pengaman yang mulanya kau anggap kokoh itu akan terlepas satu-persatu, karena sejatinya mereka tak sungguh-sungguh ada untukmu, tak sungguh-sungguh tahu tentangmu, tak punya cukup alasan untuk berkorban untukmu. Maka yang kami sayangkan adalah bagaimana engkau dengan mudahnya menganggap semua itu takkan usai dan oleh karenanya kau biarkan dirimu terbuai.
Engkau lalai.
Suatu saat nanti engkau akan harus pulang lagi kepada kami di sini. Tidak bisa tidak. Sedalam apapun engkau terlupa hari ini. Sekeras apapun hatimu hari ini.
Pulang.
Engkau tak lagi sempat menyadari perubahan-perubahan pada hatimu karena hidupmu kini menuntutmu terus berlari. Namu setelah semua ini usai dan keruntuhan-keruntuhan memaksamu untuk mendalami jiwamu sekali lagi, engkau akan melihat apa yang tergambar jelas di hadapan kami detik ini:
Bahwa engkau, pada akhirnya, tak benar-benar tahu apa semua pengorbanan yang telah kau bayarkan, yang tengah kau perjuangkan, yang hari ini kau berharap senantiasa dapat bersandar kepadanya. Bahwa dalam ketergesaanmu, engkau tak lagi jujur memaknai apa yang telah kau pinggirkan demi apa-apa yang kau peroleh hari ini.
Sekarang atau nanti, kami tetap akan menjagamu. Masih dengan naungan yang sama. Masih dengan hangat yang sama. Maka semoga engkau tercerahkan. Karena dinding-dinding ini tak sekokoh yang kami kira. Karena badai yang menghantam lambat laun meretakkan dan menghempaskan.
Dan Lara. Dan Lara.
Lara.
Engkau hanya setetes manusia.
Dan sesungguh-sungguhnya aku ingin sedemikian murka kepadamu.
Dan sesungguh-sungguhnya aku sedemikian berharap untuk membeku dalam kesabaran yang pahit.
Dan sesungguh-sungguhnya aku ingin menamparmu lalu memaafkanmu daripada aku diam lalu menyimpan dendamku hingga di kehidupan nanti sehingga Tuhan akhirnya membalaskan padamu lebih dari sekedar sebuah tamparan.
Dan sesungguh-sungguhnya aku ingin duduk dan tersenyum padamu meski engkau, tanpa perlu kuperpanjang lagi, berlaku kejam.
Dan sesungguh-sungguhnya aku ingin melontarkan serapah dan serapah dan serapah.
Aku ingin diam dan menangis dan luruh.
Aku tidak ingin tahu apa yang kau inginkan.
Engkau Tidak Akan Pernah Mendapat Apapun dengan Engkau Berbuat Semaumu, Karena..
…kelakuan seperti itu, pada dasarnya, adalah sampah.
Lihatlah betapa pada kenyataannya tiap manusia adalah ringkih sepertimu, menderita sepertimu, jadi tak usahlah mengasihani diri sendiri dan mati-matian mendewakan pedihmu sendiri karena setiap masing-masing yang bernyawa dan berjalan maupun tak berjalan di muka bumi ini memiliki pedih yang sama juga di dalam jiwanya!
Dengarlah dirimu sendiri dari balik cermin dan sadarilah betapa setiap saat dan sepanjang waktu engkau hanya berbicara soal diriku, lukaku, letihku, bahagiaku, tangisku, persoalanku, airmataku, tidurku, sendiriku, batinku.
“Diriku.”
Terkutuk! Aku tidak sedang menyumpahimu tetapi andai engkau merasa terhina dengan ucapanku sungguh ego yang membusukkan dadamu itulah yang menjadikan rasa hina itu timbul di nuranimu yang sejatinya jernih.
Aku tidak tahu nikmat apa yang kau cari karena sesungguhnya sakit itu tak akan tergantikan dengan bahagia ketika engkau mengumbarnya kemana-mana, terlebih ketika engkau menimpakannya pada orang lain seolah-olah seseorang itu adalah tuhan yang dapat menentukan kapan derita datang dan pergi dari hatimu!
Aku tidak tahu harapan apa yang kau gantungkan ketika engkau tak juga mendengarkan dan menyadari dan mensyukuri. Ah, dan terutama mensyukuri!
Berterima kasih dan bersyukurlah. Sungguh itulah yang membuatmu bernilai, dan itulah yang menyelamatkanmu. Dan untuk itu pertama-tama egomu yang sekokoh karang dan menjuntai bak raksasa itu harus terlebih dulu kau ledakkan.
Aku letih melihatmu. Aku tak akan berhenti.
Untuk Anakku
Kelak, akan ada saatnya di mana engkau akan harus memilih. Dan tiap pilihan adalah derita untukmu. Sekalipun, sekalipun, engkau tetap akan harus memilih, karena tanpa memilih maka semua derita dari tiap-tiap pilihan itu justru akan datang bersamaan padamu.
Kelak, akan ada saatnya di mana engkau akan berbuat kesalahan dan tak ada jalan keluar ataupun beralasan. Sesungguhnya penebusan dari kesalahan itu tidak akan mudah, engkau akan harus menelan semua pahitnya sementara seisi dunia seolah membencimu (maafkan aku jika paranoiaku menurun padamu dan menyiksa batinmu pula).
Kelak, akan ada saatnya engkau belajar mengerti bahwa saat engkau meninggalkan Tuhan, maka seisi duniamu akan runtuh perlahan-lahan, sampai pada titik di mana patahlah hatimu dan engkau akan mencariNya lagi. Demikianlah kecemburuanNya, dan tidak ada yang salah dari perbuatanNya. Saat engkau menjauh sementara Dia menyayangimu, maka akan diberinya engkau derita. Agar engkau teringat, agar dosamu terbayarkan dengan luka dunia.
Kelak, engkau akan sedemikian berharap untuk menangis, namun air mata itu tak juga datang. Engkau akan sedemikian memaksa untuk berteriak, namun bahkan parau duka pun tak bisa lagi keluar dari tenggorokanmu. Engkau akan menghadapi suatu derita dan justru saat itu engkau hanya dapat tertawa, bertanya-tanya apakah engkau sedang beranjak gila. Ketika ini terjadi, bersabarlah, bersabarlah. Sesungguhnya tiap-tiap kita akan mengalaminya.
Kelak, engkau akan mengecewakan beberapa manusia, dan sungguh, betapa hal tersulit di dunia ini adalah ketika engkau harus berurusan dengan manusia dan kepentingan-kepentingannya. Juga kepentinganmu. Maka seandainya saja ini sesuatu yang benar, sungguh betapa aku ingin memintamu menjauhkan dirimu sejauh-jauhnya dari peliknya sifat manusia. Jangan jauhi permasalahan mereka, namun jauhi sejauh-jauhnya keburukan yang nyata di hadapmu.
Kelak, akan ada saatnya di mana menjadi sabar bukanlah suatu pilihan, namun adalah keharusan. Bahwa tanpanya, engkau tak dapat hidup. Tidak. Tidak dapat sedikitpun. Dunia beranjak membusuk, anakku. Entah itu engkau menjadi gila, atau menjadi sabar. Dua-duanya pahit, tetapi dunia ini memang sungguh pahit.
Kelak, akan ada saatnya kita dapat berjumpa dan saling bercerita. Dengan ini, kukaitkan harapku, impi dan laraku.
Kelak, anakku.
Siapa menyayangi, disayangi.
Baru pertama kujumpai bahwa akan ada masanya dalam hidupku, aku akan berhadapan dengan pilihan-pilihan di mana semua pilihan akan memiliki pahitnya sendiri. Aku masih mencernanya di hati, mencoba melihat di mana aku telah berbuat kesalahan, berbuat kebenaran.
Aku ini penakut, pengecut, dan pemalas. Kau tahu?
Aku telah berkorban dan berjuang untuk sesuatu, dan untuk itu aku harus mengorbankan sesuatu yang lain lagi. Aku telah jatuh bangun membantumu, namun aku pun juga bersalah telah bersantai-santai dan sesekali tak mengindahkanmu.
Ya Allah, tak putus-putus aku mengagumi keahlianMu merangkai kisahku. Sungguh. Dan betapa aku ini terus mengkhianati. Mengkhianati. Aku ini munafik, ya Allah. Aku ini.. aku ini.. aku kehabisan kata-kata, ya Allah.
Selama kaki belum menjejak surga, perjuangan masih belum berakhir, katanya. Dan aku ini belum lagi apa. Belum lagi apa. Luka-luka masih akan menutup. Kesalahan-kesalahan entah bagaimana semoga terobati.
Aku ini perasa, peragu, dan penuh paranoia. Kau tahu?
Sakit apa lagi ini yang coba aku hindari? Hei, tak bisakah engkau lebih berterima kasih? Ah, tetapi benarkah aku berharap diberi ucapan semacam itu? Aku hanya ingin dihargai, barangkali. Dan diperlakukan sebagaimana siapapun akan memperlakukan orang-orang yang membantu mereka.
Siapa menyayangi, disayangi.
Inikah obat untukku?
Apa Itu Ketenaran?
Karena darah manusiaku iri. Aku iri. Ya Tuhanku.
Apakah yang kucari ini? Pandangan hormat manusia-manusia? Atau kesempatan mengucapkan sesuatu yang barangkali dapat bermakna bagi selain aku?
Apa baiknya aku tetap dalam diam, dalam gelap, tak diketahui? Apa itu ketenaran? Cobaan hidup? Atau senjata?
Tuhanku, terima kasih atas carut-marut pergolakan di otakku ini.
Tentang Perasaanku
Suatu saat nanti, kuharap ada masanya di mana tidak perlu ada lagi yang sedemikian dapat mengguncang jiwaku: entah itu dalam harap ataukah duka. Suatu saat nanti, kuharap dapat kucapai keadaan itu.
Keadaan di mana dukaku, tawaku, terpaut hanya padaNya: ridha-Nya, amarah-Nya.
Ya Allah semoga kekebalanku terhadap beberapa pedih ini adalah anugerahMu, bukanlah apatisme yang makin lama kian menguasai jiwaku.
Ya Allah tunjuki aku, tuntun aku, ampuni aku dan maksiatku; buih-buih di ombak lautan, debu angkasa di antara bintang-gemintang.